Rabu, 29 Juli 2026

Ketangguhan Seorang Ibu: Melahirkan Anak-anak Tangguh

Photo Author
Administrator, SudutJambi.com
- Senin, 22 Desember 2025 | 15:02 WIB
Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd. (Doc. ML)
Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd. (Doc. ML)

Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd

(Guru Besar UIN STS Jambi)

​A. Pendahuluan

SUDUTJAMBI.COM - Di era yang penuh dengan disrupsi dan ketidakpastian, atau yang sering didefinisikan sebagai era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity), ketangguhan (resilience) telah menjadi determinan utama bagi keberlangsungan peradaban. Ketangguhan seorang anak tidak pernah lahir dari ruang hampa; ia merupakan derivasi langsung dari ketangguhan psikologis dan spiritual seorang ibu. Ibu adalah transmiter pertama daya tahan mental manusia. Dalam diskursus keislaman, konsep ini berkelindan erat dengan makna sabr (kesabaran) yang bersifat dinamis, bukan pasif. Tuhan menciptakan rahim bukan sekadar sebagai ruang pertumbuhan fisiologis, melainkan laboratorium pembentukan karakter. Mengapa ibu yang tangguh secara niscaya melahirkan anak yang tangguh? Karena ibu adalah model peran (role model) pertama yang diamati anak saat menghadapi tekanan hidup. Jika seorang ibu memiliki kemampuan regulasi emosi yang stabil, maka anak akan menginternalisasi pola tersebut sebagai mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) yang kokoh di masa depan. Ketangguhan ibu adalah jangkar yang memastikan kapal generasi tidak karam saat diterjang badai perubahan zaman yang semakin ekstrem.

​B. Filosofi Ketangguhan dalam Khazanah Klasik

Dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulum ad-Din, Al-Ghazali (2021) menekankan bahwa proses pendidikan jiwa (riyadhah al-nafs) harus dimulai dari lingkungan domestik yang paling intim. Ibu yang tangguh menurut Al-Ghazali adalah mereka yang telah selesai dengan pergolakan jiwanya sendiri, sehingga ia mampu memancarkan ketenangan kepada anaknya. Ketangguhan ini bukanlah absennya rasa lelah, melainkan kemampuan untuk bangkit kembali (bounce back) demi eksistensi generasi masa depan. Sejalan dengan itu, Syekh Badruddin al-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim (2022) mengisyaratkan bahwa keteguhan batin seorang ibu dalam mendidik adalah "ruh" yang menghidupkan ghirah atau semangat juang anak dalam menuntut ilmu dan menghadapi tantangan intelektual. Tanpa fondasi ketangguhan dari ibu, seorang anak akan cenderung memiliki mentalitas yang rapuh saat berhadapan dengan kompleksitas kehidupan sosial. Khazanah kitab kuning memberikan pelajaran berharga bahwa ketangguhan ibu adalah bentuk zuhud dan jihad yang nyata dalam ranah pendidikan keluarga.

​C. Neurosains Ketangguhan: Koneksi Ibu dan Anak

Riset mutakhir dalam bidang neurobiologi, sebagaimana dipaparkan oleh Feldman (2020) dalam The Neurobiology of Mammalian Parenting, mengungkapkan fakta ilmiah bahwa interaksi antara ibu yang resilien dengan anaknya secara langsung memengaruhi perkembangan prefrontal cortex anak. Bagian otak ini bertanggung jawab atas fungsi eksekutif, pengambilan keputusan, dan kontrol emosi. Ibu yang tangguh memberikan apa yang disebut oleh Siegel & Bryson (2020) sebagai the power of presence—kekuatan kehadiran. Kehadiran ibu yang stabil secara emosional di saat krisis memberikan rasa aman (secure attachment) yang krusial. Rasa aman inilah yang menjadi landasan bagi anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang berani mengambil risiko dan tidak mudah hancur saat mengalami kegagalan. Sinkronisasi sirkuit saraf antara ibu dan anak membuktikan bahwa ketangguhan bukan sekadar konsep abstrak, melainkan proses biologis yang tertanam melalui kasih sayang dan ketenangan yang diberikan ibu dalam setiap fase tumbuh kembang anak.

​D. Menanamkan "Growth Mindset" melalui Keteladanan Ibu

Ketangguhan sangat erat kaitannya dengan pola pikir bertumbuh atau growth mindset. Carol Dweck dalam bukunya Mindset (2017) menjelaskan bahwa keyakinan bahwa kemampuan dapat dikembangkan melalui kerja keras dan ketekunan adalah kunci kesuksesan jangka panjang. Seorang ibu yang tangguh tidak hanya memuji hasil akhir atau kecerdasan bawaan anak, tetapi lebih menghargai proses, usaha, dan kegigihan. Di era digital saat ini, tantangan mental menjadi lebih berat karena adanya tekanan perbandingan sosial di media sosial. Haidt (2024) dalam The Anxious Generation memperingatkan tentang perlunya "vaksin mental" bagi generasi Z dan Alfa agar tidak terjebak dalam epidemi depresi. Vaksin tersebut diproduksi di rumah melalui didikan ibu yang mengajarkan bahwa kesulitan adalah guru terbaik, bukan penghalang yang harus diratapi. Ibu yang tangguh menunjukkan melalui tindakan nyata bahwa kegagalan hanyalah batu loncatan menuju kematangan, sehingga anak tidak takut untuk mencoba kembali meski telah jatuh berkali-kali.

​E. Ibu sebagai Arsitek Karakter di Era Global

Tantangan globalisme menuntut anak-anak yang memiliki kelenturan karakter dan integritas moral yang tidak tergoyahkan. Lareau (2021) dalam studinya menunjukkan bahwa keterlibatan ibu yang aktif dan resilien dalam mengarahkan aktivitas serta memberikan tantangan terukur bagi anak memberikan keunggulan kompetitif di masa depan. Ketangguhan ibu dalam membagi peran antara pengabdian domestik, pengembangan diri, dan kontribusi sosial merupakan kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) yang mengajarkan anak tentang esensi manajemen kehidupan. Sahlberg (2023) dalam konteks pendidikan global mencatat bahwa lingkungan rumah yang dikelola oleh ibu yang memiliki visi jelas dan ketahanan mental yang kuat akan menghasilkan individu yang mampu beradaptasi secara cerdas dengan keberagaman budaya dan persaingan global. Ibu adalah arsitek yang merancang struktur mental anak agar tetap tegak berdiri di tengah arus modernitas yang sering kali menggerus nilai-nilai kemanusiaan dasar.

​F. Doa dan Tawakal: Puncak Ketangguhan Ibu

Puncak dari segala bentuk ketangguhan seorang ibu dalam perspektif Islam adalah kepasrahan yang aktif atau tawakal. Setelah seluruh ikhtiar lahiriah dan pendidikan terbaik diberikan, seorang ibu melabuhkan seluruh harapan dan ketangguhannya pada doa kepada Sang Khalik. Ibn Qayyim al-Jawziyya dalam Tuhfat al-Mawdud (2020) menegaskan bahwa doa orang tua, khususnya ibu, adalah perisai spiritual bagi anak dari segala bentuk bala dan kelemahan karakter. Ketangguhan spiritual inilah yang membuat seorang ibu tetap tegar dan menjadi sumber kekuatan saat melihat anaknya menghadapi ujian hidup yang berat. Ridha ibu atas perjuangan dan jerih payah anaknya menjadi "energi kinetik" yang mendorong anak tersebut melampaui batasan-batasan manusiawinya. Dalam doa seorang ibu, terdapat kekuatan yang mampu mengubah takdir dan memberikan keberanian luar biasa bagi sang anak untuk menaklukkan dunia. Ketangguhan ini adalah kombinasi sempurna antara kerja keras di bumi dan koneksi yang tak putus dengan langit.

​G. Penutup

Ketangguhan adalah warisan paling berharga yang bisa diberikan seorang ibu kepada anaknya, jauh melampaui segala bentuk warisan harta benda yang bisa sirna ditelan waktu. Anak-anak yang tangguh adalah cermin dari sosok ibu yang tak pernah menyerah pada keadaan, sesulit apa pun tantangan yang dihadapi. Melalui sentuhan kasih sayang yang tulus, keteladanan di tengah kesulitan, dan gelombang doa yang tak pernah putus, seorang ibu sedang mengukir pahlawan-pahlawan masa depan peradaban. Mari kita muliakan setiap tetes keringat dan air mata ibu yang tangguh, karena dari tangan-tangan merekalah lahir generasi emas yang akan mengguncang dunia dengan keberanian, kecerdasan, dan kebijakan. Ibu adalah cahaya yang tak kunjung padam, menerangi jalan anak-anaknya menuju puncak kesuksesan dunia dan kemuliaan di akhirat.

​Referensi:
1. ​Al-Ghazali, I. (2021). Ihya' Ulum ad-Din: Kitab Tarbiyatul Awlad (Modern Edition). Cairo: Dar al-Minhaj.
2. Al-Zarnuji, B. (2022). Ta'lim al-Muta'allim: Tariq al-Ta'allum. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah.
3. ​Dweck, C. S. (2017). Mindset: The New Psychology of Success. New York: Ballantine Books.
4. ​Feldman, R. (2020). The Neurobiology of Mammalian Parenting and Social Caregiving. Oxford: Oxford University Press.
5. ​Haidt, J. (2024). The Anxious Generation: How the Great Rewiring of Childhood Is Causing an Epidemic of Mental Illness. New York: Penguin Press.
6. ​Ibn Qayyim al-Jawziyya. (2020). Tuhfat al-Mawdud bi Ahkam al-Mawlud. Riyadh: Dar Alam al-Fawa'id.
7. Lareau, A. (2021). Unequal Childrearing: Family, Race, and Social Class. California: University of California Press.
8. ​Livingstone, S., & Blum-Ross, A. (2020). Parenting for a Digital Future: How Hopes and Fears about Technology Shape Children's Lives. Oxford University Press.
9. ​Qutb, M. (2021). Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyyah. Cairo: Dar al-Shorouk.
10. ​Sahlberg, P. (2023). Teaching the Whole Child: Global Perspectives on Education. London: Routledge.
11. ​Siegel, D. J., & Bryson, T. P. (2020). The Power of Showing Up: How Parental Presence Shapes Who Our Kids Become. New York: Ballantine Books.
12. ​Tough, P. (2021). The Power of Character: Why Children Succeed. New York: Mariner Books.
13. Trumbull, E., & Rothstein-Fisch, C. (2022). The Intersection of Culture and Education. New York: Springer.*

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Terkini

Terpopuler

X